Tarian Ritus Candi Tirta Dewa Rasa Persembahan Candi Merak

KLATEN – Pemandangan berbeda menghiasi candi induk di dalam kompleks Candi Merak di Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, Sabtu (1/12) malam. Pasalnya, tembakan lampu berwarna-warni menyoroti gerak gemulai empat penari perempuan berpakaian tradisional Jawa dalam gelaran Indonesia Wow Day.

Selama kurang lebih setengah jam, Sri Dwi Wahyuni dan Giyah Supanggah (keduanya dari Klaten), Esti Tien asal Surakarta, serta maestro penari Topeng Indramayu, Wangi Indriya, menyuguhkan prosesi Ritus Candi Tirta Dewa Rasa. Sebuah kolaborasi pentas seni budaya yang berbalut doa bersama dua agamawan Hindhu atau disebut pinandita.

Menurut Sri Dwi Wahyuni, selaku koreografer, Ritus Candi Tirta Dewa Rasa itu mengadaptasi dari sastra Jawa kuno berjudul Samudramantana. Mengisahkan prosesi pengambilan tirta suci perwitasari oleh empat dewa/dewi, yakni Dewa Ganesha atau ilmu pengetahuan, Dewa Nagendra atau penguasa ular, Dewa Kura-kura, dan Dewi Uma di Gunung Semeru.

Keempat tokoh dewa itu sekaligus adaptasi dari empat relief hewan terukir di candi dibangun sekitar abad 9-10 Masehi pada masa Wangsa Syailendra tersebut. Selain itu, pemilihan empat penari juga dilatarbelakangi keberadaan artefak yoni yang melambangkan kesuburan. Adapun proses riset Ritus Candi Tirta Dewa Rasa memakan waktu dua bulan.

“Konsep Ritus Candi Tirta Dewa Rasa ini harapannya mengembalikan rasa stabil secara psikologi maupun spritual agar masyarakat lebih damai dan menyatu dengan alam. Tujuannya sebagai wujud rasa syukur kesejahteraan umat manusia di dunia, tidak memandang dia itu siapa, melainkan semuanya,” ujar seniman kelahiran Desa Paseban, Bayat ini.

Perwakilan penyelenggara Wow Day Indonesia, Aten menambahkan, pementasan Ritus Candi Tirta Dewa Rasa merupakan bagian dari pesta budaya perayaan 20 tahun lulusan program lembaga trainning AsiaWorks di Jakarta. Pihaknya juga mengajak warga setempat untuk membersihkan lingkungan sekitar candi, workshop membatik pewarna alam, menghias desa dan pemberian apresiasi kepada juru rawat candi.

“Candi Merak ini sendiri di kalangan wisatawan belum terdeteksi (publikasi). Bahkan sebelumnya kami mengira ini masih masuk wilayah Jogja. Makanya kami berkolaborasi dengan seniman setempat untuk menjadikan Candi Merak setara dengan Candi Prambanan. Harapannya, selesai kegiatan ini bisa diteruskan masyarakat,” pungkasnya.