Street Art Klaten Gelar Pameran “A Tribute to Maestro Rustamadji”

KLATEN – Komunitas anak muda pegiat seni graffiti dan mural jalanan yang tergabung dalam Street Art Klaten (SAK) menggelar pameran seni di Galeri Monumen Juang 45 Klaten, Sabtu- Rabu (11-15/8). Menampilkan 40 karya seni rupa kontemporer, pameran mengusung tajuk “a Tribute to Maestro Rustamadji”.

“Sebetulnya ini kegiatan rutin tahunan SAK. Cuma tahun ini kita mencoba pameran dengan konsep lebih berbobot dan ikonik Klaten. Awalnya terbesit Ki Narto Sabdo, tetapi teman-teman memutuskan pak Rustamadji lantaran memiliki background kuat di seni rupa,” kata Ketua Panitia, Enka Komariah, Minggu (12/8).

Ia menjelaskan, gelaran pameran bertujuan untuk mengenang sekaligus apresiasi kepada sosok kelahiran Klaten 19 Januari 1921 silam. Sebanyak 24 perupa muda menampilkan 40 karya, termasuk satu lukisan sang maestro. Bahkan putra Rustamadji, Karang Sasongko juga turut menghadirkan karya lukisannya.

“Barang-barang memorabilia seperti palet lukis, syal, sandal, hingga catatan harian beraksara juga turut dipamerakan. Bagi kami di SAK yang memiliki latar belakang seperti perawat, polisi, mahasiswa jurusan seni, guru, dan lain sebagainya, ingin meneladani spiritnya yang terus konsisten dalam berkarya hingga akhir hayat,” jelas Enka.

Sementara itu, kurator seni sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Mikke Susanto, mengatakan masyarakat Klaten patut berbangga memiliki maestro Rustamadji. Pasalnya, salah satu lukisannya berjudul “Pohon Nangka” dikoleksi oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno yang menghiasi Istana Kepresidenan.

“Pembelajaran melukis Rustamadji secara otodidak paling kuat di organisasi Pelukis Rakyat saat ibukota Republik Indonesia pindah ke Jogja. Kendati setiap seniman menjual karyanya, Rustamadji tidak berkarya diluar kepentingan individualismenya. Dia tetap berkarya sesuai idealismenya,” katanya.

Karya-karya yang dipajang di galeri yang terletak di belakang kompleks GOR Gelarsena Klaten itu memang kekinian dan terlihat muda. Mereka memanfaatkan media papan surfing, telenan kayu, meja belajar, dan tentu saja kanvas. Salah satunya ialah Arfian Arfo Huda (28) asal Mojayan, Klaten Tengah.

“Saya melukis perwajahan maestro Rustamadji menggunakan cat semprot diatas tirai bambu. Selama ini memang mendengar Rustamadji itu pelukis legendaris Klaten. Tetapi setelah berproses dalam pameran ini baru mengetahui bahwa dia seorang maestro lukis dan karyanya dikoleksi Bung Karno,” ujar Arfian.