Sempat Terganjal SE Mendagri, Dewan Kesenian Klaten Akhirnya Terima Hibah Rp 1,3 Miliar

KLATEN – Surat Edaran Menteri Dalam Negeri (SE Mendagri) No 900/4627/SJ tentang tata cara pencairan hibah dan bantuan sosial (bansos) mengganjal penerima untuk melakukan pencairan. Akibatnya, dana hibah sebesar Rp 3 miliar untuk Dewan Kesenian Klaten urung dicairkan.

Ketua Harian Dewan Kesenian Klaten, FX Setyawan mengatakan, menjelang tutup tahun akhirnya pihaknya mendapatkan dana hibah sebesar Rp 1,3 miliar dari APBD Perubahan 2018. Hibah tersebut lebih kecil ketimbang alokasi Pemkab Klaten melalui APBD murni sebesar Rp 3 miliar.

“Karena sesuatu hal, alokasi Rp 3 miliar itu tidak bisa dicairkan. Terutama terkait perbedaaan persepsi harus terdaftar berbadan hukum dan mengantongi SK Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Pasalnya, keberadaan Dewan Kesenian belum ada tiga tahun seperti yang disyaratkan,” katanya, Minggu (25/11).

Menurut Setyawan, aturan tersebut membuat Dewan Kesenian tidak bisa menerima dana hibah. Sebab, pembentukan Dewan Kesenian Klaten berdasarkan SK Bupati Klaten pada 2001 lalu. Padahal sesuai SK Bupati, pihaknya memiliki tanggungjawab untuk memajukan dan melestarikan budaya serta bahasa Jawa.

“Maka itu negara dalam hal ini pemerintah daerah wajib hadir dalam setiap pagelaran dan festival dengan mendukung sepenuhnya. Hal itulah yang mendasari terbitnya SK Bupati Klaten untuk menjadikan pemkab harus menganggarkan setiap tahunnya ke Dewan Kesenian,” ujarnya.

Dampak terganjalnya dana hibah tersebut, lanjut dia, selama kurang lebih tiga tahun pihaknya menginduk di Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten. Seperti pada 2017 lalu, pihaknya mendapatkan anggaran Rp 1,8 miliar melalui Disparbudpora untuk pengembangan kesenian di masing-masing komite Dewan Kesenian.

“Baru tahun ini saja kita mendapatkan dana hibah secara langsung dari pemkab, tetapi gagal dicairkan pada APBD murni. Meski lebih kecil dari plot APBD murni, akhirnya kami mendapatkan juga di APBD perubahan. Jadi ya tetap kami optimalkan untuk ngurupke,  nguripke dan ngirapke,” jelas Setyawan.

Sementara itu, salah satu pelaku seni tari tradisional asal Desa Cawas, Kecamatan Cawas, Supriyadi berharap, cairnya hibah sebesar Rp 1,3 miliar itu dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Dewan Kesenian. Terutama untuk menggairahkan berbagai kesenian yang minim perhatian seperti sinden hingga karawitan. “Harapannya ada program yang mencetak kader-kader muda dalam mengembangkan dan melestarikan berbagai kesenian di Klaten,” pungkasnya.