Pernikahan Nyeleneh Bagus Tirto dan Siti Pertiwi Demi Pertanian

KLATEN – Pementasan wayang kulit oleh dalang Jlitheng Suparman dari Wayang Kampung Sebelah menutup rangkaian pernikahan Bagus Tirto dengan Roro Ayu Siti Pertiwi di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Selasa (9/10) malam. Pernikahan nyeleneh itu bukan menyatukan sepasang manusia, melainkan unsur api dan tanah.

Ketua Paguyuban Bumi Koripan, Agung Bakar Setyoko menjelaskan, Bagus Tirto adalah kendi yang berisi air dari Sendang Kemanten di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo. Sedangkan Roro Ayu Siti Pertiwi adalah kendil atau periuk berisi tanah dari sawah di Delanggu. Sebelum dinikahkan, kedua tokoh rekaan itu telah melangsungkan lamaran pada Mei 2017 lalu.

“Ini sebuah karya seni dengan kejadian yang kita ciptakan untuk menggambarkan semangat warga Polanharjo dan Delanggu demi menjaga kelestarian alam. Karena unsur air dan tanah merupakan perlambang kehidupan di dunia. Ketika keduanya bersatu diharapkan membawa kemakmuran” jelasnya.

Rangkaian hajat budaya Bagus Tirto dengan Roro Ayu Siti Pertiwi dikemas layaknya pernikahan sepasang manusia lewat adat Jawa. Keduanya menjalani prosesi tarub, kembar mayang, gongso husodo, kirab dan siraman manten, hingga upacara rabi di Padepokan Puser Jagad, Dukuh Koripan Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Minggu- Senin (7-8/10).

“Setelah upacara rabi atau istilahnya ijab kabul di Polanharjo, malam ini Bagus Tirto melakukan pasrah penampi temanten Roro Ayu Siti Pertiwi di Delanggu. Semoga keduanya segera dikaruniai anak-anak kesuburan yang dapat mensejahterakan masyarakat Polanharjo dan Delanggu yang mayoritas sebagai petani,” ucap Agung.

Tokoh masyarakat Desa Sidowayah, Hapsoro menambahkan, Delanggu selama ini dikenal sebagai bumi beras Rojo Lele. Sedangkan dalam kehidupan masyarakat agraris, pasokan sumber mata air Umbul Kemanten telah mengaliri areal persawahan hingga Delanggu. Kondisi itulah yang melatarbelakangi pernikahan nyeleneh tersebut.

“Sebenarnya kita sangat prihatin dengan regenerasi petani di kalangan generasi muda. Sedulur-dulur tani yang ke sawah itu mayoritas berusia 50 tahun ke atas. Maka keprihatinan ini kita kemas dalam pernikahan Bagus Tirto dan Siti Pertiwi untuk peduli dengan masa depan pertanian. Syukur-syukur bisa gumregah ikut ke sawah,” pungkasnya.