Musim Hujan Rawan Gagal Panen, Petani Klaten Diminta Ikut Asuransi

KLATEN – Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten mendorong petani untuk mengikuti program asuransi pertanian atau Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Pasalnya, lahan pertanian di sejumlah wilayah Klaten setiap tahunnya menjadi langganan bencana banjir.

“Sudah kita dorong di 12 kecamatan terkait kewaspadaan memasuki musim hujan pada masa tanam Oktober-Maret ini. Seandainya suatu saat ada musibah, petani sudah siap ‘payung’ (AUTP). Minimal untuk musim tanam berikutnya bisa buat beli bibit sampai pupuk,” ujar Kepala DPKPP Klaten, Widiyanti, Selasa (27/11).

Menurutnya, banjir di lahan pertanian menjadi masalah tahunan. Wilayah-wilayah rawan banjir tersebut berada di tak jauh dari aliran Sungai Bengawan Solo, termasuk anak sungainya, yakni Sungai Dengkeng. Di antaranya, Kecamatan Gantiwarno, Wedi, Bayat, Trucuk, Cawas, Juwiring, Karangdowo, hingga wilayah perbatasan dengan kabupaten lain.

“Jika sungai meluap, air yang menggenangi lahan akan sulit surut. Bahkan jika sampai berhari-hari akan berdampak pada pertumbuhan tanaman hingga berakibat pembusukan. Apalagi saat ini sudah masuk masa tanam (MT I), jadi masih banyak tanaman baru,” ujar perempuan yang akrab disapa Wiwid ini.

Dijelaskan dia, partisipasi petani mengasuransikan tanaman padinya bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap ancaman gagal panen, termasuk serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Adapun premi yang harus dibayarkan untuk tiap musim tanam sebesar Rp 180 ribu per satu hektare (ha). Namun pemerintah memberikan subsidi 80 persen.

“Jadi petani cukup membayar swadaya 20 persen atau Rp 36 ribu per ha. Saat ini sudah ada sekitar 220 ha lahan pertanian yang terdaftar dari wilayah Trucuk dan Cawas. Karena satu ha-nya rata-rata diikuti 5-6 petani. Prinsipnya, ikut asuransi tidak harus menunggu musibah ,” jelasnya.

Salah seorang petani asal Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Jaka Purwana (52) mengaku bersama kelompok tani yang diikutinya sudah mengasuransikan tanaman padinya. Hal tersebut berkaca dari musibah banjir dampak siklon tropis Cempaka 2017 lalu. Pihaknya menerima klaim sekitar 27 ha dari total 36 ha yang didaftarkan.

“Banjir tahun lalu sampai mengungsi. Kalau yang diklaim itu tingkat kerusakannya 75 persen. Meskipun beberapa anggota enggan iuran, tetapi untuk menghindari gejolak ya kita kaver. Istilahnya, rekoso bareng, penak ya bareng,” ucapnya.