Jelang Pemilu, Kominfo Dibanjiri Aduan Konten Hoax Politik

KLATEN – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) meminta masyarakat untuk menahan jempolnya dalam menyebarkan berita jika belum mengetahui kebenarannya. Apalagi memasuki tahun politik menjelang Pemilu 2019, penyebaran berita bohong alias hoax semakin berseliweran.

Pernyataan itu disampaikan oleh Staf Ahli Kementerian Kominfo RI Bidang Hukum, Henry Subiakto, dalam forum dialog ‘Integrasi Nilai- Nilai Pancasila di Era Teknologi Informasi’ di Balai Desa Mlese, Kecamatan Gantiwarno, Minggu (18/11). Ia tak menyangkal, memblokir situs berisi konten pornografi lebih mudah ketimbang mengidentifikasi informasi hoax di media sosial.

“Menjelang pemilu, kami bisa mengidentifikasi 10 sampai 20 informasi maupun berita hoaks. Kalau informasi di luar politik seperti makanan hingga kesehatan masih stabil. Maka yang paling aman ya jangan mudah nge-share. Nanti bisa kena UU ITE. Karena kekuatan hoax itu justru ketika dishare,” katanya.

Menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya ini, secara kuantitas pemblokiran situs porno lebih banyak daripada kabar hoax. Bahkan pemblokiran sepanjang tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu menyusul penggunaan sistem mesin sensor internet Cyber Drone 9 sejak awal 2018.

“Sepanjang tahun 2017 ada 8.000 situs yang diblokir. Kalau sekarang perbulannya  pemblokiran secara otomatis konten negatif pornografi bisa mencapai 8.000 lebih situs. Tetapi untuk konten hoax harus dilakukan secara manual, yakni dilihat kata-katanya, dicek fotonya, baru kita blokir sekalugus diumumkan kepada masyarakat bahwa ini hoaks,” ujar Henry.

Hal senada juga disampaikan Ketua Komisi I DPR RI, Dr H Abdul Kharis Almasyhari. Menurutnya, kekuatan paling berbahaya dari berita hoax itu kalau sudah tersebar kemana-mana alias. Ia mengingatkan bagi pihak yang mendistribusikan, mentransmisikan, atau membuat konten hoax dapat dijerat UU ITE.

“Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman’ (Jangan mudah merasa heran, mudah menyesal, mudah terkejut dan manja-Red). Kalau kebanyakan membaca hoax di grup WhatsApp akhirnya kita jadi tidak produktif, lupa bertani ke sawah. Apalagi menjelang pemilu, baik pendukung Pak Prabowo atau Jokowi sama saja. Tidak usah dipedulikan, yang penting waktu pencoblosan sudah punya keyakinan sendiri,” pungkasnya.