Hemat Tabung LPG, Pemkab Klaten Ajak Desa Terapkan Biogas

KLATEN – Pemerintah Kabupaten Klaten mendorong setiap desa di Klaten memanfaatkan biogas sebagai bahan bakar alternatif pengganti tabung gas LPG. Pasalnya, meningkatnya konsumsi energi disertai dengan penurunan jumlah cadangan energi fosil menuntut kesadaran segenap pihak untuk melakukan penghematan.

Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Setda Klaten Cahyo Dwi Setyanta dalam kegiatan sosialisasi hemat energi dan air bertajuk “Pengembangangan Biogas sebagai EBT dan Pemanfaatan Biopori dalam rangka Konservasi Sumber Daya Air” di Pendopo Pemkab Klaten, Kamis (6/12).

“Biogas didapatkan dari limbah ternak sapi yang dimiliki masyarakat dengan memanfaatkan gas metan pada kotoran sapi. Kami memandang di Kabupaten Klaten potensi ternak sapi desa-desa itu banyak. Tetapi pemanfaatan limbahnya masih belum optimal,” katanya.

Cahyo mencontohkan salah satu desa yang sudah memanfaatkan biogas ialah Desa Mundu di Kecamatan Tulung sejak tahun 2014. Puluhan kepala keluarga membuat lantai kandang ternak sapi menyambung ke lubang penampungan limbah untuk diproses menjadi biogas. Bahkan Mundu meraih juara III lomba Desa Mandiri Energi dan Lomba Penghematan Energi dan Air tingkat Jawa Tengah pada Agustus lalu.

“Setiap keluarga rata-rata memiliki dua hingga tiga ekor sapi dewasa. Jadi bisa menghemat, paling tidak kebutuhan satu bulan sekitar dua tabung gas LPG 3 kilogram. Bahkan bisa digunakan untuk kebutuhan hajatan. Namun pemberdayaan ini tidak cukup satu sampai dua tahun,” bebernya.

Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Klaten, Dwi Maryono menambahkan, seluruh OPD di Klaten telah memiliki gugus tugas tim hemat energi dan air. Hal itu menindaklanjuti Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 13/2011 tentang Penghematan Energi dan Listrik serta keputusan Gubernur Jateng No 60/23 tahun 2012 tentang pembentukan tim kordinasi pelaksanaan penghematan energi dan air.

“Misal di OPD ada komputer tidak dipakai masih menyala, ruangan kosong tetapi AC juga menyala, itu sudah ada gugus tugasnya. Meski begitu, penghematan energi dan air bukan berarti melarang atau membatasi. Tetapi mengajak untuk semakin bijak,” imbuhnya.