Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Klaten Intervensi Kasus Stunting di 10 Desa

KLATEN – Penyakit stunting dan kekurangan gizi pada anak mendapat perhatian khusus dalam kegiatan Gelar Pangan Lokal oleh Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten. Pasalnya, terdapat 10 desa tersebar di 7 kecamatan perlu penanganan stunting secara khusus.

“Sebanyak 10 desa itu bukan kategori rawan pangan. Namun mengalami kasus stunting lantaran keterlambatan kurang gizi. Pola makan harus seimbang antara protein, nutrisi dan karbohidrat,” kata Pelaksana Tugas Kepala DPKPP Klaten, Joko Siswanto, saat ditemui di gelaran memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 di Gedung Sunan Pandanaran kompleks RSPD Klaten, Rabu (10/10).

Joko menjelaskan, temuan 10 kasus stunting tersebut berdasarkan survei Bappenas. Tersebar di Desa Randusari dan Sanggrahan (Kecamatan Prambanan), Desa Granting, Titang, Sumyang (Jogonalan), Butuhan (Delanggu), Ngaren (Pedan), Gemblegan (Kalikotes), dan Desa Tibayan (Jatinom).

Pihaknya menegaskan, tugas DPKPP bukan hanya soal produksi pertanian saja, tetapi juga masalah ketahanan pangan dan kedaulatan pangan, termasuk intervensi stunting di masyarakat. Selain itu, stunting muncul bukan karena faktor kemiskinan. Sehingga masyarakat perlu menanamkan kebiasaan makan makanan sehat kepada anak.

“Intervensi kita bentuknya mulai dari peningkatan diversifikasi pangan, peningkatan pemanfaatan pekarangan, peningkatan pemeliharaan ternak kecil untuk dikonsumsi seperti itik, ayam dan bebek. Tahun depan kita programkan. Kalau sekarang yang sudah berjalan di Ngaren lewat pembagian bibit buah-buahan,” tegas Joko.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Klaten Sri Sundari menambahkan, berdasarkan pemantauan status gizi Bappenas tersebut ada 27 persen dari total jumlah balita di Klaten mengalami stunting. Pada 2019 ditargetkan turun menjadi 20 persen.

“Data survei Bappenas tahun 2013 terkait kasus stunting di Klaten memang banyak. Tetapi sekarang strategi kita intervensi di pencegahan. Dimulai dari calon ibu, ibu hamil, saat ibu menyusui, atau selama 1.000 hari pertama kehidupan. Itu siklus kehidupan usia emas. Namun jangan lupa, pencegahan itu jangan hanya 10 desa itu saja,” imbuhnya.