Bermimpi Menjadikan Desa sebagai Pemberdayaan Masyarakat

KLATEN – Meski sudah digelontor ratusan juta rupiah dari Dana Desa, kemajuan sebuah desa sulit dilepaskan dari keberadaan para pemudanya. Hal itulah yang mendorong Liza Yuvita Sikku (29) mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mengembangkan Desa Nglinggi di Kecamatan Klaten Selatan.

 

Perempuan berkacamata yang akrab disapa Yuvita ini berhasil mengubah Perpustakaan Ngudi Kawruh yang terletak di komplek kantor Desa Nglinggi sebagai community development alias pengembangan masyarakat. Sebab dia berkeyakinan, perpustakaan harus mempunyai peran sebagai pusat pemberdayaan di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi masyarakat.

 

“Sebenarnya minat baca tidak terlalu tinggi. Tetapi memaksakan sesuatu hal yang tidak mereka suka itu tidak baik. Maka sebagai pengelola perpustakaan saya menerjemahkan fungsi perpustakaan itu sendiri sebagai pusat belajar masyarakat,” kata Yuvita, yang berinisiatif mengelola perpustakaan setempat sejak 2014 silam.

 

Selain ruang baca, Perpustakaan Ngudi Kawruh memiliki ruang komputer yang berisi tiga unit komputer layar datar layaknya ruang kerja, termasuk fasilitas wifi internet gratis. Terkendala habit atau kebiasaan membaca, dia pun menggagas program pelatihan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk tiga Sekolah Dasar yang berada di Desa Nglinggi.

 

Gayung bersambut, ketiga SD tersebut mendukung asalkan tidak bentrok dengan jadwal ekstrakurikuler dan tidak melibatkan siswa kelas VI. Sehingga sebanyak 59 siswa sepakat bertemu di perpustakaan tiap hari Senin- Jumat dengan jadwal bervariasi antar pukul 12.00 atau 14.00. Adapun tiap harinya ada 9 siswa yang belajar TIK dasar, termasuk 4 siswa SD yang bersekolah di luar Nglinggi.

 

“Sesekali saat pertemuan agak sedikit dipaksakan. Caranya, membikin resensi dari bacaan majalah Bobo yang mereka bawa pulang. Lalu saya minta mengetik tentang pengalaman mereka berteman dengan anak yang berbeda agama agar tumbuh budaya toleransi sejak dini. Nah, untuk semester kemarin selesai merampungkan dasar Microsoft Word, sekarang fokus ke Powerpoint, dan Excel,” ucap juara II lomba artikel dan karya jurnalistik 2016 berjudul “Kiblat yang Tertukar” dari Kemendikbud.

 

Selain menyasar anak, Yuvita turut mendampingi putri dari Sekretaris Desa setempat untuk berdiskusi dan mencari resep menghadapi Pemilihan Duta Pariwisata Klaten 2017. Selain itu, perpustakaan Desa Nglinggi juga menjadi tempat pelatihan desain website HTML dasar dan videografi yang menyasar karang taruna, kelas Corel Draw untuk pelaku UMKM dan Ibu- Ibu PKK, hingga pengurus RT/RW yang ingin belajar komputer dasar.

 

“Kalau ada anak datang ke sini ingin belajar, misalnya Matematika, namun dia malas, saya akan menunjukkan buku rumusnya. Jadi, kalau mereka enggak mau baca, saya adalah bukunya. Karena di perpustakaan sebenarnya pengabdian, cuma cita-citaku ingin jadi guru,” cerita pegiat literasi yang juga bekerja sebagai penulis lepas, editor, dan proofreader dengan nama pena Leezhableng ini.

 

Di sisi lain, Yuvita tak menampik, mengembangkan perpustakaan tak bisa dilepaskan dari sosok Kepala Desa (Kades) Nglinggi, Sugeng Mulyadi. Ia selalu ditantang sang Kades ketika mengusulkan program perpustakaan harus memiliki dampak bagi masyarakat. Tak heran, perpustakaan ini terpilih sebagai salah satu Taman Literasi atau Tali Integritas oleh Pusat Edukasi Anti-Korupsi KPK (Jakarta, Desember 2017).

 

“Pak Kades Sugeng ini menyenangkan, dia minta apa saja didukung asalkan ada dampaknya bagi desa. Begitu ada pembuktian, mulai tahun ini saya dapat SK sebagai pengelola perpustakaan dan web desa dengan gaji UMR Rp 1,5 juta dari sebelumnya Rp 250 ribu per bulan. Maka, kalau Kades-Kades di tempat lain bisa seperti ini, pasti desanya menggeliat. Apalagi sekarang ada Dana Desa. Anak muda enggak perlu merantau, tapi menghidupi desanya,” pungkasnya.